Kebutuhan menjaga kesehatan gigi berlangsung sepanjang kehidupan. Mulai dari pertumbuhan gigi anak, perawatan gusi dan…

Dokter Ungkap 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Merusak Gigi, Termasuk Menghisap Vape
KOMPAS.com – Menjaga kesehatan gigi sering kali dianggap cukup dengan menyikat gigi secara rutin. Padahal, kondisi gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, mulai dari mengonsumsi minuman manis, menggunakan tusuk gigi, merokok, hingga menggeretakkan gigi ketika sedang stres.
Masalahnya, sebagian kebiasaan tersebut kerap dilakukan tanpa disadari. Bahkan, seseorang bisa saja merasa sudah rajin merawat gigi, tetapi masih memiliki kebiasaan yang meningkatkan risiko gigi berlubang, gangguan gusi, atau kerusakan pada permukaan gigi.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, masalah karies masih banyak ditemukan pada berbagai kelompok usia.
Prevalensi karies tercatat sebesar 84,8 persen pada anak usia 5–9 tahun, 82,2 persen pada usia 25–34 tahun, 89,3 persen pada usia 35–44 tahun, dan 92,1 persen pada usia 45–54 tahun. Pada kelompok usia 55–64 tahun, prevalensinya bahkan mencapai 92,8 persen.

Kebiasaan yang Merusak Gigi
1. Merokok dan vape bisa memengaruhi kondisi rongga mulut
Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah merokok. Tidak hanya berdampak pada kesehatan secara umum, rokok juga dapat memengaruhi kondisi rongga mulut, salah satunya melalui perubahan produksi air liur.
“Kalau merokok, salah satu faktornya yang membuat gigi rusak adalah membuat kondisi rongga mulut kita asam. Kalau pH makin rendah, makin cepat giginya bolong,” ujar drg. Louis Zaelani, Manager Klinik SMART Dental Taman Palem.
Menurut Louis, air liur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kondisi rongga mulut. Saliva berfungsi sebagai penyangga atau buffer yang membantu mempertahankan pH di dalam mulut, agar tetap berada pada kondisi yang mendukung kesehatan gigi.
“Rokok membuat produksi saliva kita berkurang. Saliva ini sangat penting sebagai buffer atau untuk mempertahankan pH tetap netral supaya gigi tidak gampang bolong,” katanya.
Sama seperti rokok, penggunaan rokok elektronik atau vape juga dapat mengganggu kesehatan rongga mulut, terutama karena kandungan nikotin dan, pada produk tertentu, ada tambahan rasa manis.
Louis menambahkan, produk vape dengan rasa manis juga perlu menjadi perhatian, karena kandungan gula dapat meningkatkan paparan gula di dalam rongga mulut, yang bisa menningkatkan aktivitas bakteri yang menghasilkan asam.
“Kalau (vape) mengandung gula, kadar gula dalam mulut meningkat, bakterinya juga senang, produksi asam meningkat, jadi gampang bolong,” katanya.
Bagi orang yang belum mampu berhenti merokok atau menggunakan vape, Louis menyarankan untuk mengurangi penggunaannya. Namun, berhenti tetap menjadi pilihan yang lebih baik untuk kesehatan.
2. Minum kopi dan tambahannya
Minum kopi juga menjadi salah satu bagian dari rutinitas banyak orang. Namun, bagi kesehatan gigi, yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis kopinya, melainkan juga bahan tambahan yang digunakan.
Untuk kopi hitam seperti Americano, Louis menyarankan agar konsumsinya tidak ditambah gula secara berlebihan.
“Americano, asal tidak ada gula, lebih baik. Kalau menggunakan gula, itu bisa difermentasi di dalam mulut, sehingga bakterinya kembali berpesta,” tuturnya.
Bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh menambahkan gula ke dalam kopi. Menurut Louis, yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah dan frekuensinya.
“Boleh saja, tetapi dalam batas wajar. Jangan setiap hari,” ujarnya.
Sementara itu, kopi yang mengandung susu seperti latte, cappuccino, atau flat white juga perlu dibatasi. Pasalnya, susu mengandung laktosa dan dapat membuat komponen dari minuman lebih mudah menempel pada permukaan gigi.
3. Terlalu sering menggunakan tusuk gigi
Kebiasaan menggunakan tusuk gigi setelah makan, memang tampak sederhana, tetapi penggunaan tusuk gigi yang dipaksakan masuk ke sela gigi dapat menyebabkan masalah pada jaringan gusi.
“Tusuk gigi sebenarnya tidak bisa masuk ke sela gigi. Kalau dipaksa, gusinya lama-lama bisa mengalami masalah dan bahkan dapat menjadi bengkak,” ujarnya.
Gangguan pada gusi juga dapat membuat gigi terlihat lebih renggang. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan atau penurunan jaringan gusi, sehingga bagian gigi yang sebelumnya tertutup menjadi lebih terlihat.
Untuk membersihkan sela gigi, penggunaan benang gigi atau dental floss dapat menjadi pilihan. Namun, jika memiliki kondisi tertentu, seperti resesi gusi, pemilihan alat pembersih sela gigi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
4. Mengandalkan scaling
Scaling sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan secara rutin setiap enam bulan. Padahal, menurut Louis, kebutuhan scaling dapat berbeda pada setiap orang dan perawatan tersebut bukan pengganti kebiasaan membersihkan gigi di rumah.
“Scaling itu sebenarnya perawatan tambahan untuk membantu membersihkan gigi oleh dokter. Namanya manusia, kita tidak bisa 100 persen membersihkan seluruh mulut hanya dengan menyikat gigi dan flossing,” jelasnya.
Plak yang tidak dibersihkan dengan baik dapat berkembang menjadi karang gigi. Karena itu, perawatan di klinik tetap perlu diimbangi dengan kebersihan gigi yang dilakukan secara konsisten di rumah.
“Yang mencegah karang dan plak gigi adalah kebersihan di rumah. Sikat gigi dua kali sehari, pagi setelah makan dan malam sebelum tidur. Flossing juga jangan lupa,” kata Louis.
5. Sering mengatupkan gigi saat stres
Kebiasaan lain yang terkadang tidak disadari adalah mengatupkan atau menggemeretakkan gigi. Kebiasaan ini biasanya dapat muncul ketika seseorang sedang mengalami tekanan atau stres.
Louis menjelaskan, mengatupkan gigi secara sadar dikenal sebagai clenching. Sementara itu, kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur dikenal sebagai bruxism dan dapat terjadi tanpa disadari.
Menurut dia, ketika seseorang mengalami stres, tubuh dapat memiliki cara berbeda dalam merespons tekanan tersebut. Ada orang yang merokok, ada yang melakukan kebiasaan lain, dan sebagian orang dapat merespons stres dengan mengatupkan gigi.
“Kalau ada faktor yang menyebabkan stres secara psikologis, kita harus mencari cara untuk menghilangkan stres itu atau mencari kompensasinya. Pada beberapa orang, ketika sedang stres, mereka bisa melakukan clenching. Itu bisa membuat gigi rusak,” ujar Louis.
Sementara bruxism, terjadi ketika seseorang menggemeretakkan atau mengatupkan gigi saat tidur. Namun, karena berlangsung dalam kondisi tidak sadar, kebiasaan tersebut sering kali baru diketahui setelah muncul keluhan atau tanda tertentu pada gigi dan rahang.
Merawat Gigi Bukan Hanya Saat Sakit
Berbagai kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan gigi perlu dijaga secara berkelanjutan.
Kebutuhan perawatan juga dapat berubah sesuai usia, mulai dari pencegahan karies pada anak, pemantauan pertumbuhan gigi, kesehatan gusi dan susunan gigi pada remaja dan dewasa, hingga mempertahankan gigi alami dan fungsi mengunyah pada usia lanjut.
WHO Oral Health Country Profile Indonesia memperkirakan 46,9 persen anak usia 1–9 tahun mengalami karies pada gigi sulung yang belum ditangani.
Pada populasi usia 5 tahun ke atas, prevalensi karies gigi permanen yang belum ditangani diperkirakan sebesar 28,8 persen. Sementara itu, 19,6 persen populasi usia 15 tahun ke atas mengalami penyakit periodontal berat.
“Kesehatan gigi perlu dilihat dengan pendekatan life-course. Apa yang kita lakukan sejak anak-anak dapat menjadi fondasi kesehatan gigi di tahap kehidupan berikutnya,” kata Louis.
Menurut dia, pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan masalah lebih awal sehingga perawatan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien pada setiap tahap usia.
Perawatan Gigi Sesuai Usia
Pendekatan kesehatan gigi sesuai usia juga menjadi perhatian SMART Dental Group melalui SMART Dental Taman Palem, yang mengusung konsep One Stop Dental Solution dengan berbagai layanan untuk kebutuhan kesehatan gigi keluarga.
“Kami melihat kesehatan gigi sebagai perjalanan seumur hidup. Kebutuhan anak tentu berbeda dengan orangtuanya, begitu pula ketika seseorang memasuki usia yang lebih matang,” ungkap Head of Marketing SMART Dental Group, Rachma Nadya,
Melalui SMART Dental Taman Palem, setiap anggota keluarga dapat memperoleh layanan sesuai kebutuhannya, mulai dari comprehensive dental check-up, perawatan gigi anak, ortodonti, scaling dan perawatan kesehatan gusi, hingga aesthetic dentistry seperti whitening dan veneer.
Layanan lainnya mencakup restorative dentistry, seperti crown dan perawatan saluran akar, serta implan dan tindakan bedah gigi.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa perawatan gigi hanya diperlukan ketika gigi sakit. Senyum sehat untuk setiap generasi dimulai dari kebiasaan yang dibangun bersama di dalam keluarga dan dijaga sepanjang kehidupan,” pungkas Nadya.
